Do I not destroy my enemies when I make them my friends?”

Tidakkah aku menundukkan musuh-musuhku ketika aku menjalin persahabatan dengan mereka?”

Abraham Lincoln

Jakarta, Komandodp.com | Pada tahun 1860, rakyat Amerika Serikat dibuat kaget menyaksikan kebesaran hati sekaligus kecerdasan pemimpinnya, Presiden Abraham Lincoln, yang merangkul Edwin M. Stanton sebagai Secretary of War Department di kabinetnya. Siapa Stanton? Dia adalah seorang lawyer terkenal, calon Jaksa Agung, yang hanya lima tahun sebelumnya memanfaatkan dan merendahkan Lincoln sebagai seorang pengacara yang tidak kompeten. Lincoln tentu saja sangat terluka dengan sikap dan pandangan Stanton terhadap dirinya itu. Namun ia tidak membiarkan lukanya menguasai karakter kenegarawanannya.

Dengan bijak, Lincoln mengangkat Stanton dan menjadikannya penasehat militer, bekerja bahu-membahu dengannya mengurus Amerika yang berada di ambang perang saudara. Dengan sepenuh ketulusan, Lincoln lambat-laun mengubah lawannya menjadi seorang sahabat. Persahabatan di antara merekalah agaknya yang kemudian mewariskan satu quote yang sangat terkenal dari Lincoln, “Do I not destroy my enemies when I make them my friends?” — “Tidakkah aku menundukkan musuh-musuhku ketika aku menjalin persahabatan dengan mereka?”

Read Now  Aplikasi Dewan Masjid, Solusi Cerdas di Era Digital

Lebih dari satu setengah abad sesudahnya, kita melihat seorang Joko Widodo yang merangkul KH. Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presidennya. Banyak teman saya yang tak bisa tidak mengaitkan nama beliau sebagai sosok yang turut andil menjebloskan Ahok ke penjara. Padahal kita tahu betapa Jokowi dan Ahok memperlihatkan kualitas persahabatan yang luar biasa akrab, kompak, dan satu hati semasa memimpin Jakarta. Persekusi terhadap Ahok dan proses peradilan yang penuh nuansa “trial by the crowd” sudah barang tentu membuat Jokowi turut terluka, sedih, mungkin juga marah. Dengan kata lain, KH. Ma’ruf Amin, bagi sebagian orang (dan mungkin bagi Jokowi sendiri juga!) adalah sosok yang berseberangan dengan Sang Presiden. Terlepas dari rumor tekanan partai atas Jokowi, saya melihat terulangnya pembelajaran sejarah melalui kearifan yang luar biasa : “Do I not destroy my enemies when I make them my friends?”

Saya tidak tahu, apakah Jokowi memang terinspirasi hubungan Lincoln-Stanton dengan memilih KH. Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Ataukah sekedar pertimbangan pragmatis untuk meredam politik identitas yang akhir-akhir ini merobek persaudaraan kita? Filosofi Jawa memang mengajarkan bahwa cara untuk “mematikan” musuh adalah dengan “memangku”-nya. Cuma Jokowi sendiri yang tahu alasan persis keputusan yang tidak populer ini. Tapi saya berharap kita semua memandang sosok KH. Ma’ruf Amin sebagaimana Abraham Lincoln memandang Edwin M. Stanton : dengan hospitalitas dan pandangan jauh ke depan.

Read Now  #2019GantiPresiden ITU GERAKAN PAKAR, BUKAN MAKAR

Lagipula, kalau kepada Ahok ditanyakan bagaimana perasaannya terhadap mereka yang menjebloskannya ke penjara, saya haqul yakin, jawaban beliau adalah, “Saya sudah mengampuni mereka.” (**)