Makassar, Komandodp.com | Fenomena Pilkada Makassar tdak semata-mata kemenangan kotak kosong sebagai kemenangan rakyat meski itu adalah realitas yg harus diterima.

Beberapa asumsi yg terbangun:

(1) Mesin 10 partai pengusung kandidat Appi Cicu tidak jalan;

(2) Upaya menjegal DP (Petahana) kalah sebelum bertanding membuat solid timnya untuk memenangkan kotak kosong sebagai jalan trakhir perjuangan mereka;

(3) Intervensi istana dan kekuasaan yg disebut2 itu yg sangat terasa bagi warga Makassar membuat pemilih untuk tdk memilih kandidat. Warga Makassar sangat hormat pada JK sbg 02 RI, tapi tidak dg keluarganya yg meskipun-andai beliau turun langsung ke masyarakat menyeru “Pilih Ponakan Saya”… sekali lagi TIDAK;

(4) Upaya penjegalan ini pula dan intervensi kekuasaan yg dipertontonkan pada publik membuat pemilih jengkel dan beralih pilihan pada KOKO;

(5) Kuasa modal dg simbol BOSOWA & KALLA bagi kandidat tdk ngaruh bagi warga Kota Makassar …

Pembelajaran dari Pilkada Makassar,

(1) bahwa Parpol tidak lebih dari “bus kota” sekedar kendaraan untuk meraih kekuasaan. Anda mau numpang? Silahkan… bayar sesuai trayek mau turun dimana;

Read Now  Cak Imin Dorong Pelurusan Sejarah Kemerdekaan RI

(2) bahwa kemauan Parpol tidak selamanya sejalan dengan kemauan konstituen pemilih. Pertanda bahwa Parpol tidak pernah mendidik konstituennya menjadi pemilih idiolegis;

(3) rekruitmen politik oleh Parpol memiliki konsekuensi untuk mengawal apa yg menjadi kebijakan Partai, bukan mengabaikan bahkan meninggalkannya;

(4) Golput bukan lagi pilihan, sebab KOKO adalah saluran partisipasi warga dalam Pemilu jika tidak setuju dg kandidat yg disodorkan Partai. (**)

(**)(Herman/Kopel)